Pengemis a la Benhil
This one is still in Bahasa Indonesia… Perhaps someday, when somehow I could find the time and inclination, it’ll be translated into English - keep your fingers crossed ^_^;
================
Mau share pengalaman pribadi nih… (taela!)
Kalian tau Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) Benhil kan? Itu tuh yang dulu sempat masuk berita karena penuh boobytrap akibat pelatnya pada lepas2? ^_^; Nah, karena ruteku pulang-pergi kantor lewat sana tiap hari, aku jadi lumayan ‘hapal’ sama situasi di sana - in particular fakta bahwa kalau lewat sana tiap hari kerja pasti akan dihadang oleh gauntlet minimal enam(!) pengemis yang sudah standby di tempat mangkalnya masing2. Kondisinya macam2, mulai dari tua (malas? banyak kok orang tua yg masih bisa bekerja), buta, wajah yg disfigured, sampai yang semua limbs cacat sejak lahir.
Dua tahun pertama melewati jembatan itu, setiap kali lewat aku selalu menyisihkan sedikit uang untuk minimal salah satu dari mereka. Namun sejak aku baca di artikel koran bahwa ternyata banyak pengemis yang sebenarnya tidak miskin, aku berhenti melakukan itu (kecuali utk cacat yg bener2 parah) dan simply mengamati mereka. Para pengemis itu nampak terorganisir, dengan ‘rotasi’ penempatan baik di JPO Benhil sendiri maupun antar JPO lainnya - malah sampai ada orang yang mengantar dan menyediakan supply makanan untuk mereka.
Jumat malam kemarin (20 Jan), aku pulang melewati JPO Benhil habis lembur. Mungkin karena sudah malam, pengemis yang standby tidak sebanyak biasanya - hanya empat orang, dua di antaranya (keduanya pengemis buta or at least tampak buta yang sudah at least dua tahun nongkrong di situ) mengobrol di ramp turun di sisi Benhil tanpa pasang pose mengemis. Saya yang sudah capek dan suntuk karena kerjaan pun melewati mereka dengan cueknya.
Tiba-tiba terdengar suara ringtone HP. Saya dan pejalan kaki lainnya secara instinctive melihat HP kami masing-masing… ternyata bukan call ke HP kita. Lalu, dari mana? Celingukan, pandangan saya terhenti pada satu dari pengemis buta yang ngobrol di pojokan - YANG MENGELUARKAN HP DENGAN SANTAINYA LALU BICARA DENGAN SUMRINGAH TANPA TAMPANG SUSAH YANG BIASANYA DIA PASANG SAAT BERAKSI!!!
Lesson of the day: Tidak semua pengemis miskin, dan tidak semua orang miskin mengemis… Kalau mau bersedekah, telitilah dan pastikan kita memberikan uang pada orang yang tepat dan layak menerimanya. Kalau ragu-ragu, masih ada badan amal dan lembaga sosial yang aktivitasnya jelas yang membutuhkan sumbangan kita! Daripada buang-buang uang ke pengemis kaya…
Cheers,
John
January 20th, 2007 at 2:20 pm
Tidak hanya pengemis di jalan, tolaklah pula pengamen anak2. Selain melanggar etika universal mengenai pekerja di bawah umur, memberikan kepada pengamen anak di bis2 berarti pula melanggengkan siklus setan mengamen pas anak2, lalu mengamen pas remaja, mengamen pas dewasa, mengamen ketika punya anak, dan anaknya pun mengamen. Pengemis dan pengamen anak pasti bernaung di bawah sebuah mafia, melanggengkan mereka berarti pula melanggengkan mafia ini, yang bisa berarti pula melanggengkan kemiskinan terstruktur.
Bersyukurlah orang muslim, yang nuraninya bisa tersalurkan melalui mekanisme kewajiban zakat !!
January 23rd, 2007 at 8:41 am
Heran liat pengemis sekarang. Bahkan di Aceh yang terkena tsunami pun! Ada pengemis yang biasanya nangkring di depan supermarket besar di Aceh, setiap dapat uang, kerjanya tu maen judi!! Masyaallah… Untung diingetin temen-temen, “kalo liat pengemis yang idungnya besar, ga usah kasih uang. Dia pake tu buat judi”. Kalo gak tau tentang hal itu, mungkin secara gak langsung saya udah dukung judi (hiii!!)
March 19th, 2007 at 11:06 pm
Benhil folks?
Are you?
Heii, so am i
Where do you live?
Just beware when you cross JPO Benhil. A lot of pickpockets.
May 19th, 2007 at 8:50 am
Tell me about it - first week in Jakarta and they got my wallet ^_^;